Koleksi Pustaka
Sektor logistik modern menuntut tingkat visibilitas dan pengendalian aset yang tinggi guna menjamin efisiensi operasional serta kepatuhan terhadap standar layanan. Dalam konteks tersebut, PT Telkom Indonesia Tbk, melalui Divisi Internet of Things (IoT), berperan dalam menyediakan solusi pemantauan bagi PT Tanto Intim Line yang berfokus pada sistem pelacakan kontainer menggunakan perangkat Lansitec Tracker. Pemasangan perangkat pelacak ini dilatarbelakangi oleh berbagai permasalahan yang dihadapi oleh PT Tanto Intim Line, terutama terkait dengan tingginya frekuensi kehilangan kontainer dan ketidakjelasan lokasi terakhir kontainer yang hilang, yang menyebabkan kerugian operasional yang signifikan. Kehadiran Lansitec Tracker menjadi solusi utama dalam mengatasi permasalahan tersebut, karena berfungsi untuk memantau dan memperbarui lokasi kontainer secara real-time. Sementara itu, Lansitec Gateway yang dipasang di setiap depo memiliki peran penting dalam mendeteksi pergerakan keluar dan masuk kontainer secara otomatis. Meskipun sistem pelacakan telah diimplementasikan, berbagai tantangan operasional masih ditemukan, terutama dalam pengelolaan data yang terfragmentasi dari berbagai sumber seperti Trax API, Sync API, dan status Pre-Delivery Inspection (PDI). Selain itu, belum tersedia mekanisme otomatis untuk menindaklanjuti permasalahan kritis pada perangkat. Beberapa permasalahan umum yang sering terjadi pada perangkat meliputi Out of Coverage, Low Battery, Firmware Error, Destroyed/Damaged, dan Lost Device yang seluruhnya memerlukan penanganan yang cepat, terpusat, dan terintegrasi. Permasalahan operasional utama yang diidentifikasi meliputi: 1. Fragmentasi Data Informasi terkait status kontainer, status PDI, dan tiket masalah (trouble tickets) tersebar di berbagai depo, sehingga menyulitkan tim operasional dalam memperoleh pandangan tunggal (single source of truth). 2. Deteksi Masalah yang Lambat Deteksi kerusakan kritis perangkat, seperti Out of Coverage, Low Battery, atau Firmware Error, masih dilakukan secara manual atau bergantung pada sistem yang belum terintegrasi. Kondisi ini berpotensi menyebabkan pelanggaran terhadap Service Level Agreement (SLA). 3. Pelaporan Manual Proses pelaporan kondisi harian dan eskalasi masalah kepada tim operasional, khususnya di depo Jakarta (JKT) dan Surabaya (SBY), masih dilakukan secara manual sehingga memerlukan waktu lama dan rentan terhadap kesalahan. Berdasarkan kondisi tersebut, diperlukan suatu sistem terpadu yang tidak hanya berfungsi sebagai alat pemantauan, tetapi juga mampu melakukan otomatisasi proses intelijen operasional, mulai dari konsolidasi data hingga pelaporan dan notifikasi masalah secara otomatis. Oleh karena itu, dikembangkan Dashboard Monitoring Device Tracker Container Trex Operational Center (TOC) berbasis web yang bertujuan untuk memberikan visibilitas menyeluruh serta mengoptimalkan penanganan masalah di lapangan melalui integrasi data, deteksi otomatis, dan pelaporan berbasis sistem.