Koleksi Pustaka
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh beban ganda perangkat edge computing dalam mengeksekusi model kecerdasan buatan sekaligus mengirimkan gambar secara terus-menerus pada sistem pemantauan hidroponik. Kondisi ini rentan memicu hambatan pada perangkat keras. Di sisi lain, studi perbandingan sebelumnya umumnya masih terbatas pada pengujian data sensor berskala ringan, sehingga efisiensi protokol jaringan untuk pengiriman data gambar berukuran besar belum teruji secara pasti. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengevaluasi dan membandingkan kinerja protokol HTTP, WebSocket, dan MQTT pada arsitektur microservices. Metode yang digunakan adalah kuantitatif eksperimental melalui ekstraksi parameter Quality of Service (QoS) berstandar TIPHON dan pengujian keandalan operasional. Hasil pengujian menunjukkan Packet Loss seluruh protokol sangat ideal di bawah 1%. MQTT terbukti sebagai protokol paling optimal dengan Throughput tertinggi sebesar 153.92 Kbps dan Latency yang rendah di angka 26.10 ms. Sebaliknya, HTTP menjadi yang paling lambat (27.71 ms) akibat pembengkakan lapisan aplikasi dan mekanisme sinkron, sedangkan WebSocket memicu fluktuasi Jitter tertinggi mencapai 78.22 ms akibat beban komputasi enkripsi XOR Masking pada tingkat mikrokontroler. Infrastruktur microservices terbukti tahan terhadap kegagalan berantai dengan waktu pemulihan murni berkisar antara 5.019 hingga 8.044 detik. Kesimpulannya, integrasi MQTT dan arsitektur microservices menghasilkan platform smart farming yang memiliki toleransi kesalahan tinggi dan andal untuk operasional greenhouse hidroponik.